Temu Hitam: Budidaya dan Khasiat (1)   Leave a comment

Image taken from : http://w14.itrademarket.com/

Setelah mengerjakan skripsi, dan rampung beberapa pekan kemarin, hari ini sempat saya buka lagi. Nggak ada salahnya apa yang pernah saya tulis saya tempel lagi disini. Tentunya bukan hasil dari datanya, haha..

kita mulai .. d(-_^)

Penelitian saya kemarin berkutat dengan tanaman temu hitam (in vitro). Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) termasuk kedalam tanaman terna tahunan. Biasanya digunakan sebagai bahan obat-obatan (jamu tepatnya..), dan tumbuh di pekarangan-pekarangan serta hutan (kalau anda mencarinya di hutan..) secara liar. Temu hitam, yang sering kita sebut temu ireng (ini versi jawanya), koneng hideung (sunda), dan temu lotong (lupa yang ini darimana..) merupakan tanaman yang aslinya dari daerah Asia Tenggara. Menyebar mulai dari Myanmar sampai Indonesia. Rimpang tanaman ini banyak dipakai sebagai obat cacing, kudis, pelangsing badan, serta reumatik. Pada pengamatan lapangan didaerah Yogyakarta (dan sekitarnya), rimpang temu hitam digunakan sebagai penambah nafsu makan dan obat cacing didalam ramuan jamu. Temu hitam ini juga biasanya dipakai untuk memperlancar keluarnya darah sewaktu nifas (bagi wanita).

Bagaimana cara membedakan rimpang temu hitam dengan rimpang tanaman lainnya? (seperti temu putih, temu mangga, dll). Pertama tentu saja anda bisa membedakannya dari aroma. Apabila anda baru pertama kali membandingkan temu-temuan dan tidak pernah membedakan aromanya, maka bedakanlah dari warnanya. Warna rimpang temu hitam berwarna kehitaman. Rimpang yang saya amati untuk penelitian saya berwarna hitam keunguan. Ambillah rimpang bagian induk, yang ukurannya cukup besar, kemudian anda belah secara vertikal dengan menggunakan pisau. Rimpang temu hitam akan tampak berwarna hitam keunguan atau hitam kebiruan yang melingkar pada bagian pinggir rimpang.

Terus, gimana cara memperbanyak tanaman ini? mudah, biasanya kita pakai lagsung dari rimpang. Biasanya rimpang dipotong-potong dengan setiap potongan punya 2-3 mata tunas. Rimpang kemudian ditunaskan terlebih dahulu, tapi ada juga beberapa petani yang langsung menanam dilahan tanpa pembibitan terlebih dahulu. Kalau bukan dari tunas, dari apa lagi? Tentu saja bisa dari pemisahan anakan.

Cara konvensional (lewat rimpang dan pemisahan anakan)  saat ini lebih mudah digunakan. Kecuali kalau memang sangat diperlukan, seperti terbatasnya lahan, konservasi, dan perbaikan sifat, temu hitam bisa diperbanyak melalui kultur jaringan. Wajar saja, karena perbanyakan dengan kultur jaringan akan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit.

Sekian dulu dari saya, semoga bermanfaat.

Posted October 23, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: