Teknik Kultur Jaringan Tanaman   Leave a comment

Kultur jaringan tanaman modern dilakukan pada kondisi aseptik dengan udara yang telah melewati filter saat dilakukan penanaman atau pengkondisian tertentu. Hal ini dapat dilakukan didalam suatu alat yang dinamakan ‘Laminar Air Cabinet’. Pada dasarnya, bahan tanaman (bisa berupa organ tertentu, seperti tunas, daun, atau bahkan buku; bisa pula berupa jaringan atau bahkan sel tanaman) secara alami di lingkungan tumbuhnya terkontaminasi pada bagian permukaannya (dan sering pula pada bagian inferior tanaman). Kontaminan umumnya berupa mikroorganisme yang menempel pada permukaan tanaman, seperti permukaan daun, tunas, atau batang yang terekspos pada udara terbuka. Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan sterilisasi bahan tanam yang akan digunakan didalam kultur jaringan tanaman.

Sterilisasi sendiri, berdasarkan pengalaman penulis, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat bahwa setiap spesies tanaman memerlukan teknik yang berbeda dalam penanganannya. Bahkan untuk bagian organ yang berbeda didalam satu spesies pun terkadang memiliki pula teknis dan cara penanganan yang berbeda satu sama lain. Pada umumnya, bahan kimia yang sering digunakan untuk melakukan sterilisasi adalah alkohol dan pemutih pakaian (clorox). Merkuri klorida (HgCl2) saat ini mulai jarang digunakan, mengingat bahaya dalam penggunaannya, serta sulitnya pembuangan bahan kimia ini. Setelah sterilisasi tanaman dilakukan, eksplan dapat ditanam pada media padat, atau media cair. Media cair lebih umum digunakan untuk kultur suspensi ketimbang perbanyakan plantlet, akan tetapi tidak perlu heran apabila anda menemukan kultur suspensi yang digunakan pada plantlet yang telah utuh organ-organnya termasuk akar. Hal ini tetap bisa dilakukan karena penulis sendiri pernah melihatnya di salah satu balai penelitian. Media tanam aseptik sendiri dapat terdiri dari garam inorganik, yang ditambahkan vitamin, gula, zat pengatur tumbuh tanaman dan sesekali bahan organik. Untuk media padat maka diperlukan agen pemadat berupa agar.

 

Komposisi media, terutama zat pengatur tumbuh dan sumber nitrogen, memiliki pengaruh terhadap morfologi jaringan yang tumbuh dari eksplan. Sebagai contoh, penambahan auksin yang lebih tinggi akan berpengaruh pada proliferasi akar, sementara penambahan sitokinin yang lebih tinggi akan memicu pertumbuhan tunas baru. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penambahan zat pengatur tumbuh yang terlampau tinggi akan memicu pertumbuhan kalus. Kemampuan dan penguasaan teknik, serta pengetahuan yang diperlukan akan sangat berpengaruh apabila kita bekerja dalam bidang ini.

 

Posted October 27, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: