Pemilihan Jenis Eksplan dalam Kultur Jaringan Tanaman   Leave a comment

Image from technivit.pagesperso-orange.fr

Jaringan atau organ tanaman yang digunakan untuk menanam di dalam media in vitro disebut sebagai eksplan (explant). Berdasarkan teori totipotensi, seharusnya eksplan dapat diperoleh dari seluruh bagian tanaman. Tetapi, pada praktiknya, konsep ini tidak digunakan. Hal ini disebabkan karena hampir pada kebanyakan organ dari berbagai spesies tanaman, memiliki variasi dalam kecepatan pertumbuhan dan regenerasi, dan bahkan sebagian lagi dari organ-organ tersebut dapat tidak tumbuh sama sekali saat ditanam. Pemilihan bahan tanam juga menentukan apabila plantlet yang akan ditumbuhkan berasal dari tanaman haploid atau diploid. Begitu pula dengan resiko kontaminasi oleh bakteri dan cendawan apabila kita kurang cermat dalam memilih eksplan.

Perbedaan spesifik dalam potensi regenerasi organ dan eksplan itu sendiri memiliki berbagai penjelasan. Faktor yang termasuk berpengaruh adalah perbedaan pada kondisi sel didalam siklus sel, kemampuan untuk mentransportasikan hormon tumbuh endogen, serta kemampuan metabolik sel itu sendiri. Bagian tanaman yang paling umum digunakan sebagai eksplan adalah bagian meristem, seperti ujung tunas dan ujung akar tanaman. Jaringan-jaringan ini memiliki kecepatan pembelahan sel yang tinggi dan produksi substansi hormon seperti sitokinin dan auksin.

Beberapa eksplan seperti ujung akar, sulit untuk diisolasi dan acapkali terkontaminasi oleh mikroflora tanah sehingga menjadi masalah dalam prosesnya. Beberapa mikroflora bahkan membentuk asosiasi yang erat dengan sistem perakaran, atau bahkan tumbuh didalam jaringan akar. Masalahnya, partikel dan butiran tanah yang menempel di akar akan sulit dibersihkan tanpa melukai akar yang dapat memicu serangan mikroorganisme pada akar. Mikroflora yang terasosiasi ini kemudian akan tumbuh lebih cepat ketimbang pertumbuhan eksplan didalam media tanam.

Eksplan yang berada diatas permukaan tanah juga rentan terhadap mikroflora ini, hanya saja mereka relatif lebih mudah dibersihkan dengan menggunakan pencucian, dan sisanya dapat dimatikan saat sterilisasi permukaan eksplan.  Hampir kebanyakan mikroflora di udara tidak membentuk ikatan kuat dengan jaringan tanaman. Ikatan dan asosiasi seperti itu dapat ditemukan melalui pengamatan pada pudarnya warna atau nekrosis pada jaringan tanaman.

Alternatif lain untuk mendapatkan eksplan steril yaitu dengan cara mengambilnya melalui benih yang ditumbuhkan dari benih steril permukaan. Permukaan benih yang keras sulit untuk ditembus oleh sterilant sehingga proses sterilisasi menjadi lebih ketat ketimbang jaringan vegetatif.

Posted October 27, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Teknik Kultur Jaringan Tanaman   Leave a comment

Kultur jaringan tanaman modern dilakukan pada kondisi aseptik dengan udara yang telah melewati filter saat dilakukan penanaman atau pengkondisian tertentu. Hal ini dapat dilakukan didalam suatu alat yang dinamakan ‘Laminar Air Cabinet’. Pada dasarnya, bahan tanaman (bisa berupa organ tertentu, seperti tunas, daun, atau bahkan buku; bisa pula berupa jaringan atau bahkan sel tanaman) secara alami di lingkungan tumbuhnya terkontaminasi pada bagian permukaannya (dan sering pula pada bagian inferior tanaman). Kontaminan umumnya berupa mikroorganisme yang menempel pada permukaan tanaman, seperti permukaan daun, tunas, atau batang yang terekspos pada udara terbuka. Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan sterilisasi bahan tanam yang akan digunakan didalam kultur jaringan tanaman.

Sterilisasi sendiri, berdasarkan pengalaman penulis, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat bahwa setiap spesies tanaman memerlukan teknik yang berbeda dalam penanganannya. Bahkan untuk bagian organ yang berbeda didalam satu spesies pun terkadang memiliki pula teknis dan cara penanganan yang berbeda satu sama lain. Pada umumnya, bahan kimia yang sering digunakan untuk melakukan sterilisasi adalah alkohol dan pemutih pakaian (clorox). Merkuri klorida (HgCl2) saat ini mulai jarang digunakan, mengingat bahaya dalam penggunaannya, serta sulitnya pembuangan bahan kimia ini. Setelah sterilisasi tanaman dilakukan, eksplan dapat ditanam pada media padat, atau media cair. Media cair lebih umum digunakan untuk kultur suspensi ketimbang perbanyakan plantlet, akan tetapi tidak perlu heran apabila anda menemukan kultur suspensi yang digunakan pada plantlet yang telah utuh organ-organnya termasuk akar. Hal ini tetap bisa dilakukan karena penulis sendiri pernah melihatnya di salah satu balai penelitian. Media tanam aseptik sendiri dapat terdiri dari garam inorganik, yang ditambahkan vitamin, gula, zat pengatur tumbuh tanaman dan sesekali bahan organik. Untuk media padat maka diperlukan agen pemadat berupa agar.

 

Komposisi media, terutama zat pengatur tumbuh dan sumber nitrogen, memiliki pengaruh terhadap morfologi jaringan yang tumbuh dari eksplan. Sebagai contoh, penambahan auksin yang lebih tinggi akan berpengaruh pada proliferasi akar, sementara penambahan sitokinin yang lebih tinggi akan memicu pertumbuhan tunas baru. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penambahan zat pengatur tumbuh yang terlampau tinggi akan memicu pertumbuhan kalus. Kemampuan dan penguasaan teknik, serta pengetahuan yang diperlukan akan sangat berpengaruh apabila kita bekerja dalam bidang ini.

 

Posted October 27, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Temu Hitam: Budidaya dan Khasiat (1)   Leave a comment

Image taken from : http://w14.itrademarket.com/

Setelah mengerjakan skripsi, dan rampung beberapa pekan kemarin, hari ini sempat saya buka lagi. Nggak ada salahnya apa yang pernah saya tulis saya tempel lagi disini. Tentunya bukan hasil dari datanya, haha..

kita mulai .. d(-_^)

Penelitian saya kemarin berkutat dengan tanaman temu hitam (in vitro). Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) termasuk kedalam tanaman terna tahunan. Biasanya digunakan sebagai bahan obat-obatan (jamu tepatnya..), dan tumbuh di pekarangan-pekarangan serta hutan (kalau anda mencarinya di hutan..) secara liar. Temu hitam, yang sering kita sebut temu ireng (ini versi jawanya), koneng hideung (sunda), dan temu lotong (lupa yang ini darimana..) merupakan tanaman yang aslinya dari daerah Asia Tenggara. Menyebar mulai dari Myanmar sampai Indonesia. Rimpang tanaman ini banyak dipakai sebagai obat cacing, kudis, pelangsing badan, serta reumatik. Pada pengamatan lapangan didaerah Yogyakarta (dan sekitarnya), rimpang temu hitam digunakan sebagai penambah nafsu makan dan obat cacing didalam ramuan jamu. Temu hitam ini juga biasanya dipakai untuk memperlancar keluarnya darah sewaktu nifas (bagi wanita).

Bagaimana cara membedakan rimpang temu hitam dengan rimpang tanaman lainnya? (seperti temu putih, temu mangga, dll). Pertama tentu saja anda bisa membedakannya dari aroma. Apabila anda baru pertama kali membandingkan temu-temuan dan tidak pernah membedakan aromanya, maka bedakanlah dari warnanya. Warna rimpang temu hitam berwarna kehitaman. Rimpang yang saya amati untuk penelitian saya berwarna hitam keunguan. Ambillah rimpang bagian induk, yang ukurannya cukup besar, kemudian anda belah secara vertikal dengan menggunakan pisau. Rimpang temu hitam akan tampak berwarna hitam keunguan atau hitam kebiruan yang melingkar pada bagian pinggir rimpang.

Terus, gimana cara memperbanyak tanaman ini? mudah, biasanya kita pakai lagsung dari rimpang. Biasanya rimpang dipotong-potong dengan setiap potongan punya 2-3 mata tunas. Rimpang kemudian ditunaskan terlebih dahulu, tapi ada juga beberapa petani yang langsung menanam dilahan tanpa pembibitan terlebih dahulu. Kalau bukan dari tunas, dari apa lagi? Tentu saja bisa dari pemisahan anakan.

Cara konvensional (lewat rimpang dan pemisahan anakan)  saat ini lebih mudah digunakan. Kecuali kalau memang sangat diperlukan, seperti terbatasnya lahan, konservasi, dan perbaikan sifat, temu hitam bisa diperbanyak melalui kultur jaringan. Wajar saja, karena perbanyakan dengan kultur jaringan akan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit.

Sekian dulu dari saya, semoga bermanfaat.

Posted October 23, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Control Your Diabetes with Juice   Leave a comment

This afternoon I went to a shoping mall, and accidentally, found a book which talk about how to control  diabetes with juice. Well, that was the first time I knew that juices can control diabetes mellitus. Now, here are some informations I could gather for this topic.

I’ve heard that diabetes mellitus is a degenerative disease that could bring complications such as coma, a tissue damage, and even blindness.

Once a man affected by this disease, for whole of his life, he cannot be cured for 100 %. Even if he/she is declared cured from it, still, he need to implement a healthy lifestyle. Otherwise, it may relapse in a very high possibility.

We could rely upon a drug to control it (I remember that my grandma need an injection at least once a day for it). But, could we also rely to herbal and (let’s say) a ‘juice therapy’?. Well, yes we can. Juice is good for patient, since they need soluble fibers to control their sugar levels in blood. Few research showed that fibers have a great tendency to control the sugar levels in blood. A patient with a high consumption of fibers, about 50 grams/day, equal to 7 – 8 servings of fruit and vegetables, may have a lower blood sugar levels and keep it stable rather than a patient who consumpt a moderate diet fibers.

Fruit and vegetables could lower the blood sugar levels by detaining the absorption of sugars, repairs and stimulates pancreatic beta cells to produce insulin. But in the otherside, it is hard for a patient with missing teeth . Therefore, the fruit and vegetables are reprocessed into juices, so patients won’t experience a difficulty and the solutes will easily absorbed.

Some kind of fruits for a diabetes patient i.e. soursop, starfruit, orange, tomato, apple, strawberry, papaya, and guava. Those fruits could be consumpted independently or in combinations (try not to combine more than 3 kind of fruits). Fruits can also be combined with vegetables or other fresh herb such rosella, aloe vera, and Morinda citrifolia.

Try to be patient and diligent, to consume it. Aside from routinely consume juices, a patient must also control his/her diet, consume drugs routinely, takes medical check up, and doing some sport.

Use a fresh, mature, and high quality of fruits, vegetables or herbs to make a juice. Wash the ingredients before it sliced. Remember to use a non caloric sweeteners and filter the juice before you drink it. Juice may be consumed for three times a day, before or after meal.

Well, here are some recipes for you to try..

Apple-Strawberry-Soursop Juice

  • 150 g of apple
  • 100 g of strawberry
  • 100 g of soursop
  • Sufficient water and ice

Red Rosella-Guava Juice

  • 200 g guavas
  • 60 g/ 10 sheaths of fresh rosella
  • 1 teaspoon of honey
  • Sufficient water and ice

Aloe vera – tomato juice

  • 150 g of tomato
  • 100 g of aloe vera
  • 1 teaspoon of lemon, take the water
  • Sufficient water and ice

Red Rosella – Apple Juice

  • 6 sheaths of fresh rosella
  • 1 apple fruit
  • a teaspoon tip of salt
  • Sufficient lime water
  • non caloric sweeteners
  • 200 ml of water

Red rosella – starfruit juice

  • 3 sheats of rosella
  • 1/2 starfruit
  • 1 apple fruit
  • a teaspoon tip of salt
  • non-caloric sweeteners
  • 200 ml of water

 

 

 

Posted October 23, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Design a site like this with WordPress.com
Get started