Pemilihan Jenis Eksplan dalam Kultur Jaringan Tanaman   Leave a comment

Image from technivit.pagesperso-orange.fr

Jaringan atau organ tanaman yang digunakan untuk menanam di dalam media in vitro disebut sebagai eksplan (explant). Berdasarkan teori totipotensi, seharusnya eksplan dapat diperoleh dari seluruh bagian tanaman. Tetapi, pada praktiknya, konsep ini tidak digunakan. Hal ini disebabkan karena hampir pada kebanyakan organ dari berbagai spesies tanaman, memiliki variasi dalam kecepatan pertumbuhan dan regenerasi, dan bahkan sebagian lagi dari organ-organ tersebut dapat tidak tumbuh sama sekali saat ditanam. Pemilihan bahan tanam juga menentukan apabila plantlet yang akan ditumbuhkan berasal dari tanaman haploid atau diploid. Begitu pula dengan resiko kontaminasi oleh bakteri dan cendawan apabila kita kurang cermat dalam memilih eksplan.

Perbedaan spesifik dalam potensi regenerasi organ dan eksplan itu sendiri memiliki berbagai penjelasan. Faktor yang termasuk berpengaruh adalah perbedaan pada kondisi sel didalam siklus sel, kemampuan untuk mentransportasikan hormon tumbuh endogen, serta kemampuan metabolik sel itu sendiri. Bagian tanaman yang paling umum digunakan sebagai eksplan adalah bagian meristem, seperti ujung tunas dan ujung akar tanaman. Jaringan-jaringan ini memiliki kecepatan pembelahan sel yang tinggi dan produksi substansi hormon seperti sitokinin dan auksin.

Beberapa eksplan seperti ujung akar, sulit untuk diisolasi dan acapkali terkontaminasi oleh mikroflora tanah sehingga menjadi masalah dalam prosesnya. Beberapa mikroflora bahkan membentuk asosiasi yang erat dengan sistem perakaran, atau bahkan tumbuh didalam jaringan akar. Masalahnya, partikel dan butiran tanah yang menempel di akar akan sulit dibersihkan tanpa melukai akar yang dapat memicu serangan mikroorganisme pada akar. Mikroflora yang terasosiasi ini kemudian akan tumbuh lebih cepat ketimbang pertumbuhan eksplan didalam media tanam.

Eksplan yang berada diatas permukaan tanah juga rentan terhadap mikroflora ini, hanya saja mereka relatif lebih mudah dibersihkan dengan menggunakan pencucian, dan sisanya dapat dimatikan saat sterilisasi permukaan eksplan.  Hampir kebanyakan mikroflora di udara tidak membentuk ikatan kuat dengan jaringan tanaman. Ikatan dan asosiasi seperti itu dapat ditemukan melalui pengamatan pada pudarnya warna atau nekrosis pada jaringan tanaman.

Alternatif lain untuk mendapatkan eksplan steril yaitu dengan cara mengambilnya melalui benih yang ditumbuhkan dari benih steril permukaan. Permukaan benih yang keras sulit untuk ditembus oleh sterilant sehingga proses sterilisasi menjadi lebih ketat ketimbang jaringan vegetatif.

Posted October 27, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Teknik Kultur Jaringan Tanaman   Leave a comment

Kultur jaringan tanaman modern dilakukan pada kondisi aseptik dengan udara yang telah melewati filter saat dilakukan penanaman atau pengkondisian tertentu. Hal ini dapat dilakukan didalam suatu alat yang dinamakan ‘Laminar Air Cabinet’. Pada dasarnya, bahan tanaman (bisa berupa organ tertentu, seperti tunas, daun, atau bahkan buku; bisa pula berupa jaringan atau bahkan sel tanaman) secara alami di lingkungan tumbuhnya terkontaminasi pada bagian permukaannya (dan sering pula pada bagian inferior tanaman). Kontaminan umumnya berupa mikroorganisme yang menempel pada permukaan tanaman, seperti permukaan daun, tunas, atau batang yang terekspos pada udara terbuka. Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan sterilisasi bahan tanam yang akan digunakan didalam kultur jaringan tanaman.

Sterilisasi sendiri, berdasarkan pengalaman penulis, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat bahwa setiap spesies tanaman memerlukan teknik yang berbeda dalam penanganannya. Bahkan untuk bagian organ yang berbeda didalam satu spesies pun terkadang memiliki pula teknis dan cara penanganan yang berbeda satu sama lain. Pada umumnya, bahan kimia yang sering digunakan untuk melakukan sterilisasi adalah alkohol dan pemutih pakaian (clorox). Merkuri klorida (HgCl2) saat ini mulai jarang digunakan, mengingat bahaya dalam penggunaannya, serta sulitnya pembuangan bahan kimia ini. Setelah sterilisasi tanaman dilakukan, eksplan dapat ditanam pada media padat, atau media cair. Media cair lebih umum digunakan untuk kultur suspensi ketimbang perbanyakan plantlet, akan tetapi tidak perlu heran apabila anda menemukan kultur suspensi yang digunakan pada plantlet yang telah utuh organ-organnya termasuk akar. Hal ini tetap bisa dilakukan karena penulis sendiri pernah melihatnya di salah satu balai penelitian. Media tanam aseptik sendiri dapat terdiri dari garam inorganik, yang ditambahkan vitamin, gula, zat pengatur tumbuh tanaman dan sesekali bahan organik. Untuk media padat maka diperlukan agen pemadat berupa agar.

 

Komposisi media, terutama zat pengatur tumbuh dan sumber nitrogen, memiliki pengaruh terhadap morfologi jaringan yang tumbuh dari eksplan. Sebagai contoh, penambahan auksin yang lebih tinggi akan berpengaruh pada proliferasi akar, sementara penambahan sitokinin yang lebih tinggi akan memicu pertumbuhan tunas baru. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penambahan zat pengatur tumbuh yang terlampau tinggi akan memicu pertumbuhan kalus. Kemampuan dan penguasaan teknik, serta pengetahuan yang diperlukan akan sangat berpengaruh apabila kita bekerja dalam bidang ini.

 

Posted October 27, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Temu Hitam: Budidaya dan Khasiat (1)   Leave a comment

Image taken from : http://w14.itrademarket.com/

Setelah mengerjakan skripsi, dan rampung beberapa pekan kemarin, hari ini sempat saya buka lagi. Nggak ada salahnya apa yang pernah saya tulis saya tempel lagi disini. Tentunya bukan hasil dari datanya, haha..

kita mulai .. d(-_^)

Penelitian saya kemarin berkutat dengan tanaman temu hitam (in vitro). Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) termasuk kedalam tanaman terna tahunan. Biasanya digunakan sebagai bahan obat-obatan (jamu tepatnya..), dan tumbuh di pekarangan-pekarangan serta hutan (kalau anda mencarinya di hutan..) secara liar. Temu hitam, yang sering kita sebut temu ireng (ini versi jawanya), koneng hideung (sunda), dan temu lotong (lupa yang ini darimana..) merupakan tanaman yang aslinya dari daerah Asia Tenggara. Menyebar mulai dari Myanmar sampai Indonesia. Rimpang tanaman ini banyak dipakai sebagai obat cacing, kudis, pelangsing badan, serta reumatik. Pada pengamatan lapangan didaerah Yogyakarta (dan sekitarnya), rimpang temu hitam digunakan sebagai penambah nafsu makan dan obat cacing didalam ramuan jamu. Temu hitam ini juga biasanya dipakai untuk memperlancar keluarnya darah sewaktu nifas (bagi wanita).

Bagaimana cara membedakan rimpang temu hitam dengan rimpang tanaman lainnya? (seperti temu putih, temu mangga, dll). Pertama tentu saja anda bisa membedakannya dari aroma. Apabila anda baru pertama kali membandingkan temu-temuan dan tidak pernah membedakan aromanya, maka bedakanlah dari warnanya. Warna rimpang temu hitam berwarna kehitaman. Rimpang yang saya amati untuk penelitian saya berwarna hitam keunguan. Ambillah rimpang bagian induk, yang ukurannya cukup besar, kemudian anda belah secara vertikal dengan menggunakan pisau. Rimpang temu hitam akan tampak berwarna hitam keunguan atau hitam kebiruan yang melingkar pada bagian pinggir rimpang.

Terus, gimana cara memperbanyak tanaman ini? mudah, biasanya kita pakai lagsung dari rimpang. Biasanya rimpang dipotong-potong dengan setiap potongan punya 2-3 mata tunas. Rimpang kemudian ditunaskan terlebih dahulu, tapi ada juga beberapa petani yang langsung menanam dilahan tanpa pembibitan terlebih dahulu. Kalau bukan dari tunas, dari apa lagi? Tentu saja bisa dari pemisahan anakan.

Cara konvensional (lewat rimpang dan pemisahan anakan)  saat ini lebih mudah digunakan. Kecuali kalau memang sangat diperlukan, seperti terbatasnya lahan, konservasi, dan perbaikan sifat, temu hitam bisa diperbanyak melalui kultur jaringan. Wajar saja, karena perbanyakan dengan kultur jaringan akan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit.

Sekian dulu dari saya, semoga bermanfaat.

Posted October 23, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Control Your Diabetes with Juice   Leave a comment

This afternoon I went to a shoping mall, and accidentally, found a book which talk about how to control  diabetes with juice. Well, that was the first time I knew that juices can control diabetes mellitus. Now, here are some informations I could gather for this topic.

I’ve heard that diabetes mellitus is a degenerative disease that could bring complications such as coma, a tissue damage, and even blindness.

Once a man affected by this disease, for whole of his life, he cannot be cured for 100 %. Even if he/she is declared cured from it, still, he need to implement a healthy lifestyle. Otherwise, it may relapse in a very high possibility.

We could rely upon a drug to control it (I remember that my grandma need an injection at least once a day for it). But, could we also rely to herbal and (let’s say) a ‘juice therapy’?. Well, yes we can. Juice is good for patient, since they need soluble fibers to control their sugar levels in blood. Few research showed that fibers have a great tendency to control the sugar levels in blood. A patient with a high consumption of fibers, about 50 grams/day, equal to 7 – 8 servings of fruit and vegetables, may have a lower blood sugar levels and keep it stable rather than a patient who consumpt a moderate diet fibers.

Fruit and vegetables could lower the blood sugar levels by detaining the absorption of sugars, repairs and stimulates pancreatic beta cells to produce insulin. But in the otherside, it is hard for a patient with missing teeth . Therefore, the fruit and vegetables are reprocessed into juices, so patients won’t experience a difficulty and the solutes will easily absorbed.

Some kind of fruits for a diabetes patient i.e. soursop, starfruit, orange, tomato, apple, strawberry, papaya, and guava. Those fruits could be consumpted independently or in combinations (try not to combine more than 3 kind of fruits). Fruits can also be combined with vegetables or other fresh herb such rosella, aloe vera, and Morinda citrifolia.

Try to be patient and diligent, to consume it. Aside from routinely consume juices, a patient must also control his/her diet, consume drugs routinely, takes medical check up, and doing some sport.

Use a fresh, mature, and high quality of fruits, vegetables or herbs to make a juice. Wash the ingredients before it sliced. Remember to use a non caloric sweeteners and filter the juice before you drink it. Juice may be consumed for three times a day, before or after meal.

Well, here are some recipes for you to try..

Apple-Strawberry-Soursop Juice

  • 150 g of apple
  • 100 g of strawberry
  • 100 g of soursop
  • Sufficient water and ice

Red Rosella-Guava Juice

  • 200 g guavas
  • 60 g/ 10 sheaths of fresh rosella
  • 1 teaspoon of honey
  • Sufficient water and ice

Aloe vera – tomato juice

  • 150 g of tomato
  • 100 g of aloe vera
  • 1 teaspoon of lemon, take the water
  • Sufficient water and ice

Red Rosella – Apple Juice

  • 6 sheaths of fresh rosella
  • 1 apple fruit
  • a teaspoon tip of salt
  • Sufficient lime water
  • non caloric sweeteners
  • 200 ml of water

Red rosella – starfruit juice

  • 3 sheats of rosella
  • 1/2 starfruit
  • 1 apple fruit
  • a teaspoon tip of salt
  • non-caloric sweeteners
  • 200 ml of water

 

 

 

Posted October 23, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Sigedong Farm and Village   Leave a comment

— May the village always be blessed —

We are the team of six when we visit the village. We stayed for almost two months in 2008, since July to August. The first time we arrived, we know, that this village is exotic and remaining untouched from outsiders.

Sigedong is a village in Bumijawa, a sub-district of Tegal in center of Java. It took almost two hours southward from the District Hall. The village itself could only reached by a pickup as a mass transportation, since there’s no official public transportation except those pickup. The pickup cars have a time service only until dusk.  Besides pickup, we coud also use a motorcycle taxi, but it cost is more expensive.

 

"The village views in the morning"

 

The air was still clean. Not much car and machines, no industries, just a vegetable farms. Cabbage, Chili, and potato are the ‘big three’ commodities here. The village then divided into 9 (or 10, I don’t remember exactly..) regions, I may call it as a sub-village. From all the sub-villages, there’s only one which separated from the others. Hidden, and higher.

Most of people here work as a farmer for their livelihood. Sometimes, we visit them working in their farm, learning something from their activities. We learn how the ‘real farmers’ harvesting without machine, how they use pesticides, and some tricks in farming. Activities started in the morning at, generally, 8 am., and finished in the afternoon (around 4 pm).

Their farm were awesome, beautiful for sure (perhaps because we rarely saw it in our place),  and amazing. The air was fresh, with fogs in the morning, hiding the hills from our view.

"A farm view in the afternoon"

The people are religious. Most of them are moslems. Every single night always filled with recitation. Basically, they’re friendly to outsiders, but it is recommended to speak in javanese as a regional language. Not because they can’t speak Indonesian, many of them do, but because their colloquial language is javanese.

I recommend for you to visit an area (a sub-village) called ‘Sawangan’. Sawangan is separated from the others, and it lies on the foothills of Slamet. We tried to rent a car to reach those place. It took an hour to reach it and few hours to spent there, observing the people, the settlements, and their farms.

"A footpath to potato plantations in Sawangan hills"

Most of the land are planted by potatoes. The are was cold, dusty, windy, with sands everywhere. Here, the potatoes planted intensively. Beside potatoes, we may found cabbages here. Different from the lower area, here, the size of the cabbages is bigger.

"Sawangan, farm area"

 

Posted October 22, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Catatan Kultur Jaringan Tanaman : Media Tanam   Leave a comment

Karakteristik Media Kultur Jaringan

Tipe dan jenis media yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman akan bergantung kepada jenis (spesies) tanaman yang akan dibudidayakan. Hal ini terjadi karena beberapa spesies sensitif terhadap kesalinan media, atau bahkan memiliki kebutuhan akan zat pengatur tumbuh yang berbeda pula. Selain itu, usia jaringan (tanaman) yang digunakan akan memiliki pengaruh pula dalam hal ini. Sebagai contoh, jaringan yang masih juvenile biasanya akan membentuk akar lebih mudah dibandingkan pada jaringan yang lebih tua. Tipe dari organ yang digunakan pun akan menentukan dalam pemilihan media; contohnya, bagian akar akan memerlukan thiamin. Masing-masing media akan memberikan efek yang berbeda satu sama lain, seperti auksin yang digunakan untuk menginduksi perakaran, atau kombinasi auksin dan sitokinin (dalam perbandingan tertentu) untuk menginisiasi pembentukan tunas baru.

Media yang dibuat oleh Murashige dan Skoog (1962), disebut pula media MS, merupakan media dengan kadar salin (garam) tinggi, mengacu kepada kandungan mineral K dan N didalamnya. Media ini pada awalnya merupakan media yang digunakan untuk tanaman tembakau dan didasari atas analisis mineral dari jaringan tembakau. Media yang dibuat oleh Linsmaier dan Skoog (1965) juga pada dasarnya adalah media MS mengacu kepada kadar hara inorganik didalamnya, tapi hanya inositol dan thiamin HCl yang digunakan dalam komponen organiknya. Untuk mengatasi masalah sensitifitas kesalinan beberapa jenis tanaman berkayu, Llyod dan McCown (1980) membuat media Woody Plant Medium (WPM). Media B5 dari Gamborg (Gamborg et al., 1968) digunakan untuk mengkulturkan kalus dari tanaman kedelai, dan memiliki kadar nitrat yang lebih rendah  serta lebih mengutamakan kandungan ammonium dibandingkan media MS. Meskipun media B5 pada awalnya digunakan untuk menginduksi kalus atau diutamakan sebagai kultur suspensi, tetapi dapat digunakan pula sebagai media dasar bagi perbanyakan tanaman pada umumnya. Pada tahun 1972, Schenk dan Hildebrandt membuat medium SH untuk kultur kalus tanaman dikotil dan monokotil. Medium White (1963), yang ditujukan untuk kultur jaringan akar tomat, memiliki konsentrasi garam yang lebih rendah daripada media MS. Media Nitsch (Nitsch dan Nitsch, 1969) yang digunakan untuk kultur anther mengandung konsentrasi garam dengan kadar diantara media MS dan media White.

Komponen Media Kultur Jaringan

Media kultur jaringan terdiri dari 95 % air, hara makro dan mikro, zat pengatur tumbuh (ZPT), vitamin, gula, dan sesekali bahan organik.

Unsur/Hara Inorganik

Kebutuhan hara makro dan mikro tanaman dalam media kultur jaringan bergantung kepada spesies tanaman, dan tidak ubahnya seperti tanaman yang ditanam pada lingkungan (in vivo). Media MS lebih banyak digunakan karena hampir kebanyakan tanaman bereaksi cocok dengan media tersebut.

Hara makro dibutuhkan dalam kadar millimolar (mM) pada hampir kebanyakan media dasar. Nitrogen biasanya  disuplai dalam bentuk ion amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-); meskipun sesekali kompleks organik, seperti urea, asam amino seperti glutamin, atau kasein hidrolisat yang merupakan campuran asam amino dan amonium. Meskipun kebanyakan tanaman lebih mudah dalam menyerap nitrat ketimbang amonium, keseimbangan yang baik diantara keduanya untuk pertumbuhan yang optimum bagi tiap spesies tanaman berbeda. Sebagai tambahan, nitrogen, potasium, magnesium, kalsium, fosfor, dan sulfur disediakan dari komponen yang berbeda dan direferensikan sebagai hara makro. MgSO4 menyediakan magnesium dan sulfur; NH4H2PO4, KH2PO4, atau NaH2PO4 menyediakan fosfor; CaCl2.2H2O atau Ca(NO3)2.4H2O menyediakan kalsium; dan KCl, KNO3, atau KH2PO4 menyediakan potasium. Klor disediakan oleh KCl dan/atau CaCl2.2H2O.

Hara mikro secara tipikal terdiri dari boron (H3BO3), kobalt (CoCl2.6H2O), besi (kompleks FeSO4.7H2O dan Na2EDTA, atau, jarang, Fe2[SO4]3), mangan (MnSO4.H2O, molibdenum (NaMoO3), tembaga (CuSO4.5H2O), dan seng (ZnSO4.7H2O). Hara mikro dibutuhkan dalam konsentrasi yang lebih rendah (mikromolar).

Bahan Organik

Gula merupakan komponen penting dalam media tanam, dan penggunaannya diperlukan bagi pertumbuhan dalam kultur in vitro. Hampir kebanyakan kultur tanaman tidak mampu berfotosintesis secara efektif karena beragam alasan, termasuk karena perkembangan sel dan jaringan yang terhambat, kurangnya klorofil, terbatasnya pertukaran gas didalam botol kultur, dan kurangnya kondisi optimal lingkungan. Konsentrasi 20-60 g/l sukrosa (disakarida yang terdiri atas glukosa dan fruktosa) lebih sering digunakan sebagai sumber karbon atau energi karena gula dapat ditransfer secara alami oleh tanaman. Monosakarida atau disakarida, glukosa, fruktosa, sorbitol, dan maltosa dapat pula digunakan. Konsentrasi gula yang digunakan akan bergantung kepada usia dan tipe eksplan yang digunakan. Sebagai contoh, suatu embrio yang masih sangat muda akan memerlukan konsentrasi gula lebih tinggi (>3%).

Vitamin merupakan substansi organik yang merupakan bagian dari enzim atau kofaktor bagi fungsi metabolisme esensial tanaman. Dari sekian banyak vitamin, hanya thiamin (vitamin B1 pada konsentrasi 0.1 – 5.0 mg/l) yang dibutuhkan dalam kultur in vitro, karena vitamin ini dibutuhkan dalam metabolisme karbohidrat dan biosintesis beberapa asam amino. Thiamin biasanya diberikan kedalam kultur jaringan dalam bentuk thiamin hidroklorida (HCl). Asam nikotin (Nicotinic acid), dikenal juga sebagai niacin, vitamin B3, atau vitamin PP, digunakan dalam konsentrasi 0.1 sampai 5 mg/l. Media MS mengandung thiamin HCl, niacin, dan pyridoxine (vitamin B6) dalam bentuk HCl. Pyridoxine merupakan koenzim penting yang digunakan dalam reaksi metabolisme dan digunakan dallam konsentrasi 0.1 – 1.0 mg/l. Biotin (vitamin H) umumnya ditambahkan kedalam media dalam konsentrasi 0.01 – 1.0 mg/l.

Inositol terkadang dikarakterisasikan kedalam grup vitamin B kompleks, tetapi gula alkoholnya lah yang berpartisipasi dalam sintesis phospholipida, pektin dinding sel, dan sistem membran di sitoplasma. Inositol ditambahkan kedalam media dengan konsentrasi 0.1 – 1.0 g/l, dan terbukti dibutuhkan oleh beberapa spesies monokotil, dikotil, dan gimnosperma.

Sebagai tambahan, asam amino lain terkadang ditambahkan kedalam media. Termasuk didalamnya adalah L-glutamin, asparagin, serine, dan prolin, yang digunakan sebagai sumber nitrogen organik tereduksi, terutama untuk menginduksi dan memelihara embriogenesis somatik. Glycine, asam amino paling sederhana, umumnya sering digunakan karena esensial dalam sintesis purin dan merupakan bagian dari struktur cincin porfirin klorofil.

Bahan organik kompleks adalah grup suplemen-suplemen yang belum dapat didefinisikan seperti kasein hidrolisat, air kelapa, jus jeruk, jus tomat, jus anggur, jus nanas, dsb. Komposisi bahan organik pada dasarnya tidak diketahui dan dapat bervariasi antar lot, menyebabkan respon yang bervariasi pula.

Beberapa jenis ,bahan organik digunakan sebagai sumber nitrogen, seperti kasein hidrolisat, campuran dari sekitar 20 asam amino berbeda dan amonium (0.1 – 1.0 g/l), pepton ( 0.25 – 3.0 g/l), tryptone (0.25 – 2.0 g/l), ekstrak pati (0.5 – 1.0 g/l). Campuran ini sangat kompleks dan mengandung vitamin-vitamin layaknya asam amino.

Arang aktif berguna untuk mengabsorpsi pigmen hitam/coklat serta bahan fenolik. Arang aktif dimasukkan kedalam media dengan konsentrasi 0.2 – 3.0 % (w/v). Dapat pula digunakan untuk mengabsorbsi bahan organik lain, termasuk ZPT, dan material lain seperti vitamin, dan kelat besi/seng. Efek berlebih dari ZPT dapat diminimalisir dengan menambahkan arang aktif ketika mentransfer eksplan menuju media tanpa ZPT. Fitur tambahan yang dapat dilakukan arang aktif juga meliputi perubahan lingkungan media menjadi gelap sehingga membantu pembentukan akar. Dapat pula menginisiasi embriogenesis somatik,dan memacu pertumbuhan serta organogenesis tanaman berkayu.

Pigmen yang tercuci dan bahan polyphenol teroksidasi serta tanin dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini terbentuk dari eksplan yang terluka. Jika arang aktif tidak dapat mengurangi efek browning tersebut, penambahan Polyvinylpyrrolidone (PVP), 250-1000 mg/l), atau antioksidan seperti asam sitrat, asam askorbat, thiourea, dapat dicoba.

Posted June 28, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized

Jenis dan Macam media Tanam   Leave a comment

Berbicara mengenai media tanam untuk tanaman, terkadang terlintas dipikiran kita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah, pupuk, kompos, kotor, dsb. Apabila anda menganggap bahwa menyediakan media tanam yang baik bagi tanaman adalah perkara yang menyulitkan, merepotkan, dan tentu saja ‘kotor’, dan kemudian anda menghindarinya, anda tidak akan pernah mendapatkan pertumbuhan yang baik bagi tanaman yang anda tanam. Pertumbuhan optimal pada tanaman, hanya akan tercapai apabila kita menyediakan media yang tepat bagi perakaran tanaman.

Pada dasarnya media tanam menyediakan tempat bagi perakaran untuk tumbuh dan menyediakan hara dan nutrisi pula bagi tanaman. Saat kita menanam pohon di pekarangan rumah, atau bercocok tanam di ladang, tentunya kita akan menggunakan tanah yang berada dilokasi sebagai media tanam. Anda hanya perlu memperbaiki kondisi tanah dengan melakukan pengolahan tanah dan pemupukan, hingga tanaman anda dapat tumbuh dengan baik saat ditanam di lapang. Tetapi bagaimana bila anda menanam didalam pot? Untuk tanaman hias anda, atau mungkin untuk tanaman yang anda aklimatisasikan dari kultur in vitro. Tentunya kita akan memerlukan media tersendiri yang dapat ditempatkan didalam wadah yang akan kita gunakan. Berbagai jenis media dapat kita gunakan dalam hal ini, tetapi pada prinsipnya kita hanya menggunakan media tanam yang mampu menyediakan nutrisi, air, dan oksigen bagi perakaran. Penggunaan media yang tepat akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bagi tanaman anda.

Setiap jenis tanaman memiliki kebutuhan media tanam yang berbeda. Anda tidak dapat menyamaratakan semua kebutuhannya hanya kedalam satu jenis media tanam. Karakteristik tanaman akan menentukan jenis media tanam yang dibutuhkan. Dari sekian jenis media tanam yang digunakan, anda dapat melakukan eksperimen dan kombinasi dalam menyediakan komposisi media tanam. Tentunya dengan syarat bahwa anda mengetahui masing-masing karakterisik dari media tanam yang akan anda kombinasikan dan gunakan.

Sekam Bakar/Arang Sekam

Sekam bakar atau arang sekam merupakan media tanam yang berasal dari sekam padi yang dibakar. Proses pembakarannya pun tidak dengan sembarang dibakar ^^. Dibutuhkan suatu tungku khusus agar proses pembakaran merata pada seluruh sekam padi yang akan dibakar. Saat saya berkunjung ke salah satu petani penghasil sekam bakar, saya ikut melihat proses pembuatan sekam bakar tersebut. Tumpukan sekam padi hasil panen yang telah dikumpulkan dibakar dan proses pembakarannya sendiri memakan waktu yang lama. Selain itu diperlukan proses pembalikan sekam setiap beberapa jam agar pembakaran merata pada seluruh tumpukan sekam.

Sekam bakar merupakan media yang paling sering digunakan oleh para petani dan hobiis tanaman hias. Keunggulannya adalah bahwa media tanam ini steril, mampu digunakan dalam jangka waktu yang lama (bisa sampai 1 tahun), dan menciptakan aerasi yang sangat baik bagi perakaran tanaman. Tetapi sayangnya, daya retensi media ini dalam menahan air tidaklah lama. Untuk menyiasatinya sekam bakar umumnya dicampur dengan media lain dengan daya pegang air yang lebih baik. Sekam bakar cocok untuk tanaman hias sukulen, seperti adenium dan euphorbia.

Tanah Kebun

Istilah tanah kebun sering digunakan orang untuk menyebut tanah-tanah yang berasal dari sekitar kebun. Rekan saya dari Departemen Ilmu Tanah pernah mengatakan bahwa tanah-tanah yang berasal dari bawah rumpun bambu merupakan tanah yang mengandung banyak humus dan baik bagi tanaman. Selain tanah dari bawah pohon bambu, tanah dibawah pohon pisang juga mengandung humus dan dapat pula kita manfaatkan. Tanah yang mengandung humus dapat anda perhatikan dari warnanya. Tanah ini berwarna cokelat kehitaman dengan kandungan hara yang cukup baik, serta mampu mengakomodasi air dan oksigen yang memadai bagi tanaman. Selain itu kandungan pasirnya yang cukup banya menjadikan media ini memiliki porositas air yang cukup baik.

Saat anda bermaksud menggunakan tanah kebun sebagai salah satu media tanam, ada baiknya anda melakukan sterilisasi terlebih dahulu (catatan : akan lebih baik apabila anda melakukan sterilisasi media tanam apapun itu, sebelum anda gunakan). Anda dapat mengukusnya dengan menggunakan drum bekas (apabila jumlahnya banyak) atau dengan panci (apabila jumlahnya sedikit). Selain itu anda dapat pula menjemurnya dibawah terik sinar matahari, hanya saya proses ini terkendala oleh waktu yang lama dan cuaca harian.

Selain tanah yang berasal dari kebun (tanah dengan kandungan humus), dapat pula digunakan tanah liat atau pasir (tanah pasir) sebagai media campuran (tanah liat atau berpasir dicampur dengan media tanam lain). Tanah liat jarang sekali digunakan sebagai media tanam oleh petani, hal ini disebabkan karena kemampuannya mengikat air dan udara yang sangat kuat. Sejauh pengetahuan saya, tanah liat digunakan sebagai bahan campuran media dengan kompos, pasir, atau pupuk kandang. Berbeda dengan tanah liat, tanah berpasir bersifat sangat porous dan tidak mampu mengikat air dalam jangka waktu lama. Tetapi karena sifatnya itulah udara dapat disuplai bagi perakaran. Tanah berpasir umum dicampur dengan media kompos atau pupuk kandang.

Sekam Padi (Sekam Mentah)

Sekam padi atau lebih dikenal dengan istilah sekam mentah, memiliki kemampuan untuk menyerap dan menahan air dengan cukup baik. Uniknya, media ini rawan terjangkit oleh penyakit karena sifatnya yang lembap. Media ini lebih cocok digunakan untuk tanaman sukulen atau kaktus, dan dapat digunakan di tempat yang kering dan panas.

Cocopeat

Cocopeat merupakan media tanam yang terbuat dari sabut kelapa dan diolah sedemikian rupa. Media ini memiliki kapasitas menahan air yang cukup baik. Media ini bersifat lembap dan sesuai untuk digunakan pada daerah yang panas dan kering. Umumnya cocopeat lebih sering digunakan dalam kombinasi dengan jenis media tanam lain. Kekurangan dari cocopeat sebagai media tanam disebabkan oleh sifatnya yang mudah lapuk, sehingga anda perlu melakukan penggantian media apabila media ini dirasa telah lapuk. Untuk menyiasatinya, kombinasikan dengan media lain agar pergantian media tidak terlalu sering.

Pakis

Pakis merupakan media tanam yang sering digunakan dalam campuran media tanam untuk aglaonema dan anthurium (rekan saya juga pernah menggunakannya untuk bisnis bibit anthuriumnya). Porinya yang banyak memudahkan daerah perakaran untuk tumbuh dan berkembang. Kemampuannya menahan air yang diiringi dengan drainase terhitung sangat baik. Berbeda dengan cocopeat, media ini lebih lama bertahan (tidak mudah lapuk) dan mampu memberikan hara bagi tanaman.

Pasir Malang

Pasir malang merupakan media dengan bobot yang cukup berat dibandingkan dengan media yang lain. Pasir malang digunakan untuk memudahkan air keluar dari dalam pot karena porositasnya yang cukup baik. Hanya saja media ini tidak digunakan secara mandiri, tetapi digunakan dengan campuran dari media sekam bakar, kompos, atau pupuk kandang.

Kompos

Kompos merupakan sisa tumbuhan atau sampah yang telah melapuk dan umum digunakan sebagai pupuk organik. Saat ini banyak kompos kemasan yang telah disterilkan dan dijual di pasaran sehingga memudahkan anda untuk menggunakannya. Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam adalah kompos yang tidak berbau, bertekstur remah, dan berwarna cokelat kehitaman.

Pupuk Kandang

Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang telah matang. Bisa saja berasal dari kotoran ayam, sapi, domba, dan sebagainya. Perlu diingat bahwa kotoran hewan dan pupuk kandang tidaklah tepat sama. Untuk menghasilkan pupuk kandang, anda memerlukan waktu cukup lama agar kotoran hewan bisa berfermentasi hingga akhirnya tidak bau dan bertekstur remah. Jangan anda gunakan kotoran hewan yang masih panas (dalam artian baru ‘keluar’), sebagai pupuk kandang, karena tanaman bisa terbakar (hangus) karena kandungan amonia yang cukup tinggi dari kencing atau kotoran ternak. Saat pupuk kandang telah matang, anda dapat menggunakannya dengan mencampurnya dengan media tanam lain . Pupuk kandang mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak, dan yang terpenting, tanaman dapat menyerap kandungan unsur hara yang ada didalamnya.

Posted June 24, 2010 by agriculturalnotes in Uncategorized